#1. Senyuman Walau Dalam Keadaan Pahit
"Fariz, kamu ini selalu saja bikin masalah di sekolah! kalo tidak berkelahi, ya bolos sekolah! silahkan kamu berdiri dengan kaki diangkat satu dengan dua telinga dipegang" Suara kepala sekolah bernada tegas dan nyaring terdengar di dalam kantor kepsek siang ini.
"Baik pak" Jawab Fariz dengan senyuman walaupun dalam keadaan pahit. Seketika suasana terdiam ketika mendengar ada yang membuka pintu.
"Tok...Tok...Tok..."
"Assalamualaikum" seorang guru datang membawa siswi pindahan dari sekolah lain.
"Waalaikumsalam, iya masuk" jawab kepsek.
Fariz tiba-tiba terpanah melihat sosok bidadari datang dari balik pintu, "eh salah bidadari mah datangnya dari langit ya, kalo dibalik pintu mah mahasiswa tingkat akhir menjelang abadi" jawabku di dalam hati.
Disaat kepsek berdiskusi bersama guru dan bokap dari siswi tersebut di luar kantor kepsek. Kemudian siswi ini bertanya kepada si Fariz, "Kamu ngapain?".
"Aku lagi main sirkus, eh bukan ya, lagi disayang sama kepsek sis" jawab si Fariz dengan selera humor yang receh".
"Yaelah itumah dihukum bro bukan disayang" sanggahan si siswi.
"Eh dari tadi sis bro sis bro udah kayak anak jaksel aja, btw kita kenalin yuk nama saya Fariz" sambil menyalamkan telapak tangan ke siswi baru tersebut.
"Walah boleh, kenalin saya Dina" dibalas salaman dengan jari telunjuk tersebut. "Eh, kok kamu balasnya pake jari telunjuk" sanggahan Fariz.
"Iya soalnya saya takut kena virus corona" jawab Dina.
"Tidak apa-apa terkena virus corona, kan nanti kita jadinya sevisi sesurga bersama". Maaf cerita tersebut sebelum terjadi wabah virus corona, hanya cerita belaka dari sang penulis yang meluapkan emosinya dari tulisan ini.
Awal kisah mereka berdua dipertemukan di ruangan kepsek SMA terkemuka di Lampung. Keesokan harinya mereka dipertemukan dalam satu kelas tiga yang sama. Ketika jam belajar sekolah dimulai Fariz selalu memandangi Dina tanpa memperhatikan gurunya sedang mengajar di depan kelas. Lalu, bu guru tersebut melihat si Fariz yang tidak memperhatikan papan tulis dan memanggilnya. "Fariz, kamu jawab pertanyaan bu guru ya! Bagaimana cara meningkatkan daya tahan tubuh pada manusia?" Bu guru bertanya kepada si Fariz.
"Dengan cara memandangi Dina setiap saat bu" jawab Fariz dengan pedenya. Seketika kelas yang tadinya terdiam jadi terdengar riuh ketawa secara serempak.
"Oalah jadi gitu ya, Fariz kamu maju ke depan kelas dengan kaki satu diangkat dan dua kuping dipegang sambil memandangi Dina" bu guru dengan nada nyaringnya dengan menyuruh Fariz ke depan kelas.
"Baik bu, saya sangat berterimakasih jadi melihat Dina setiap saat" jawab Fariz dengan senyuman walaupun dalam keadaan pahit.
"Teng...Teng..." suara bel istirahat berbunyi.
Disaat jam istirahat bu guru tetep menghukum Fariz dan menyuruh Dina untuk mengganti baterai baru pada jam dinding yang telah mati di depan kelas. Ketika Dina mengganti jam dinding dengan baterai baru terdengar suara aneh pada kursi yang dinaikinnya.
"Krek...Krek..." lalu kursi tersebut patah dan Dina pun terjatuh.
"Bup..." Dina pun terjatuh di pelukkan Fariz yang telah menolongnya. Dan Fariz pun memandangi wajahnya sambil menari-nari dengan muncul lagu romantis, maaf terdapat kesalahan, hal tersebut hanya terjadi di film India. Mereka berdua tersipu malu dan mulai muncul rasa seperti monyet, maksudnya cinta monyet.
"Teng...Teng...Teng..." suara bel pulang sekolah telah berbunyi.
Tiba-tiba Dina menghampiri Fariz dan berkata "Makasih banyak ya riz, walaupun kamu sedang dihukum tapi masih sempat menolong saya yang sedang kesusahan. Sekali lagi makasih ya riz..."
"Iya santai Din, sudah seharusnya kita sebagai manusia harus saling tolong-menolong" Jawab Fariz dengan senyuman walaupun dalam keadaan pahit.
#2. Anugerah Terindah
Di hari Senin merupakan hari terburuk bagi Fariz, hari tersebut dimana ia tidak menyukai kegiatan upacara di Lapangan karena tidak menyukai bangun di pagi hari. Yang terburuk dari hari Senin bagi Fariz dia selalu telat untuk datang ke Sekolah, dan siang harinya dia ditelpon oleh Bokapnya sambil berkata "Fariz kamu ini selalu saja kalo tidak telat ya bolos Sekolah, sekali lagi kamu berbuat masalah di sekolah, kamu pindah sekolah di pondok pesantren saja ya?"
"Maafkan Fariz ya yah, Fariz janji untuk tidak telat dan bolos lagi deh" Rayuan Fariz agar ia tidak sekolah di pondok pesantren.
Keesokan harinya Fariz dipanggil oleh kepala sekolah dan dihukum di lapangan sekolah, ya begitulah malangnya nasib Fariz. Namun, Ketika ia telah selesai menerima hukumannya tiba-tiba si Dina menghampiri Fariz sambil berkata "Riz kamu ini mau membahagiakan orang tuamu kan, jadi jangan malas lagi ya untuk datang ke sekolah tepat waktu, dibiasakan untuk tidak begadang waktu malam hari ya".
Ketika dinasehati oleh Dina, Fariz pun merasa muncul api-api semangat dalam dirinya dan kata-kata itu merupakan anugerah terindah baginya. Fariz membalas perkataan Dina dengan senyuman "Iya din makasih ya, eh kok kamu tau sih kalo saya sering begadang?.
"Taulah, adekku yang cowok ya begadangan maen game terus. Makanya setiap malem saya nasehati dia terus untuk tidak begadangan terus" Jawab Dina.
"Walah, iyadeh saya janji kali ini untuk tidak begadangan lagi" Fariz tangannya sambil memegang dada dan menyanyikan Indonesia Raya. Eh salah, maksudnya ia sambil memegang dada sebagai tanda janji kepada Dina.
"Awas ya kalo kamu bohong!" Jawab Dina dengan nada semangat. "Iya janji untuk tidak bohong, ini buktinya yang saya pegang dada sendiri bukan dada ayam. Ya kalo dada ayam ya saya kenyang din" Fariz dengan lelucon recehnya.
"Apasih, tidak lucu tau! eh gimana kalo kita lomba aja yuk?" Dina sedang membuat semangat Fariz agar tidak buat masalah lagi ke sekolah.
"Lomba gimana tuh Din?" Fariz dengan penasarannya.
"Ya lomba cepet-cepetan untuk datang ke sekolah, yang kalah nanti traktir ayam dada ya, gimana?" Tawaran lomba dari Dina.
"Hahahahaha bisa saja kamu Din, susah tau nyari ayam bagian dada sekarang. Tapi ya ayoklah saya terima lomba dari kamu Din". Jawaban terima Fariz dengan salaman kepada Dina.
Dina pun membalasnya dengan jari telunjuk lagi dan Fariz pun berkata "Eh pake jari telunjuk lagi, tidak apa-apa kali Din, tangan saya sudah cuci tangan dan pake hand sanitizer kok jadi terbebas dari virus corona, panu, kadas, kurap kutu air. Eh maaf salah dikarenakan penulis sedang meluapkan emosinya akibat karantina dirumah hahahaha. Kalimat yang bener itu, Dina pun membalas salaman Fariz dan sambil tersipu malu.
Hari berikutnya dia membuktikan janjinya terhadap Dina dengan bangun pagi dan tidak terlambat sekolah, tetapi dia kalah lomba dari Dina yang duluan datang ke sekolah. Dan Dina menghampiri Fariz sambil berkata "Nah gitu dong datang sekolah tepat waktu, tapi jangan lupa traktir ayam bagian dada ya"
"Iyadeh nanti ya pas pulang sekolah, saya traktir kamu. Tapi dengan satu syarat?" Fariz dengan merayu Dina untuk pulang sekolah bersamanya.
"Nah kan di perjanjian lomba tidak ada syaratnya Riz, emang apa syaratnya?" Jawab Dina.
"Syaratnya Dina pulang sekolah bersama saya terus ya, gimana?" Fariz dengan rayuan gombalnya.
"Dasar kamu modus sekali ya, tapi rumah saya jauh tau dari sekolah" Jawab Dina.
"Iya tidak apa-apa loh din, mau rumahmu di ujung Kulon pun saya antar dengan selamat" Jawab Fariz dengan modusnya. Dasar lelaki modus, kardus, kerdus, dan wedus hahaha maaf ini hanya humor belaka.
"Ah bisa saja kamu" Jawab Dina dengan kata singkat, padat, jelas. Cewek mah gitu ya, lelaki jawab panjang lebar sampe ke Ujung Kulon, eh si cewek selalu jawabnya singkat sesingkat singkatnya dari pintu gerbang sekolah sampai ke tempat satpam.
"Beneran mau ya din, tapi kamu saya boncengin pake motorku yang butut sekelas motor Astre* tidak apa-apa ya? Fariz sedang meyakini Dina.
"Iya tidak apa-apa kok, saya juga setiap hari naik angkot kalo berangkat pulang dari sekolah" Dina menjawabnya dengan senyuman.
Dengan jawaban itu Fariz merubah dirinya menjadi lebih baik dan rajin ke sekolah dan merupakan anugerah terindah baginya selama dia hidup. Dan ketika jam pulang sekolah tiba, mereka pun pulang sekolah bareng dan Si Fariz mentraktir makan bersama Dina. Dan disini kisah asmara pun dimulai.
#3. Waktu Yang Salah Tiba
Dan waktu demi waktu mereka pun menikmati masa-masa asmara di sekolah, tetapi si Fariz tidak kunjung juga untuk menyatakan perasaan cintanya terhadap Dina, dikarenakan dia butuh waktu yang tepat untuk menyatakan perasaan tersebut. Ketika di hari Senin yang merupakan hari dimana Fariz selalu lomba bersama Dina untuk cepet-cepetan datang ke sekolah tepat waktu, hari tersebut dimana dia membuktikan ke Dina kalo ia lebih cepat datang dan ia ingin mengungkapkan perasaan cintanya. Ketika Fariz sudah datang lebih pagi ke sekolah dia menunggu Dina dengan pembuktiannya, tetapi Dina pun tak kunjung datang. Dan rasa penasaran pun tiba dengan diri Fariz, sambil bertanya ke kawan sebangkunya bernama Ani dan berkata "Ani kamu liat Dina tidak?".
Ani pun menjawab "Lah kamu belum tau kalo Dina pindah sekolah di Bogor?".
"Lah dia tidak bilang apa-apa kalo mau pindah ke sekolah? kamu bohong ya Ni?" Fariz dengan tidak percayanya kalo Ani pergi meninggalkan dia.
"Iya beneran, katanya dia mau pindah ke sekolah di Bogor karena Bokapnya mau pindah Dinas Kerja di sana" Jawab si Ani dengan meyakinkan Fariz.
Dan dimana Fariz merasakan dimana api-api yang ada di dirinya yang sedang membara, perlahan mulai meredup dikarenakan Dina meninggalkan ia dan belum mengungkapkan perasaan cintanya. Ani pun seketika menyampaikan pesan terakhir Dina melalui surat untuk Fariz dan berkata "Oiya saya lupa, Dina kemaren nitipin surat ke saya untuk kamu".
Dan ketika dibacanya surat itu Fariz pun merasa mulai menghidupkan kembali api-api semangatnya dengan perkataan Ani yang menyentuh "Fariz maaf ya saya buru-buru pindah sekolah ke Bogor dan belum bilang secara langsung ke kamu kalo saya mau pergi, Tetap semangat ya Riz dan jangan lupain saya ya. Dan inget jangan karena saya pergi kamu males untuk ke sekolah dan belajar. Tetep semangat untuk menggapai mimpimu dan yakinlah kita suatu saat akan bertemu lagi".
Dan dari situ Fariz semangat untuk belajar dan telah menetapkan untuk menggapai mimpinya kuliah di Bogor yang nantinya dia ingin bertemu dengan Dina dan menyatakan perasaan cintanya yang belum tercapai sebelumnya. Dan masa-masa akhir sekolah pun tiba, seketika Fariz pun lulus sekolah dengan predikat terbaik. Ketika masa-masa tes di perguruan tinggi tiba, Fariz bisa mengerjakan tes tersebut dengan baik. Disaat pengumuman penerimaan mahasiswa terbaru muncul nama Fariz peringkat pertama di perguruan tinggi terbaik di Bogor dengan Jurusan Kehutanan. Seketika Fariz pun penasaran dengan nasibnya Dina apakah dia masuk di kampus terbaik di Bogor tersebut, setelah mencari namanya akhirnya Fariz menemukan bahwa Dina masuk ke perguruan tinggi tersebut di Jurusan Perikanan. Dan Fariz pun merasa dirinya masih terdapat harapan untuk bertemu dengan Dina.
Keesokan harinya Fariz izin minta doa restu kepada Orang Tuanya untuk pergi menuntut ilmu ke Bogor. Jangan lupa ya siapa pun yang membaca cerpen ini untuk selalu minta doa restu kepada Orang Tua dimanapun kita melangkah, karena ridhonya Orang Tua itu ridhonya Tuhan juga. Lanjut ke cerita, Fariz pun bertemu dengan kawan lamanya dari lampung yang kebetulan satu asrama di Bogor dan sama-sama satu perguruan tapi beda Jurusan. Temannya itu bernama Dito dan Novan, tetapi mereka berdua sama-sama satu Jurusan bersama Dina. Dan setiap harinya Fariz selalu menanyakan kabar Dina dari mereka berdua, tetapi belum ingin bertemu dengan Dina karena dia takut ketika dia ingin bertemu dengannya dengan menyatakan perasaan cintanya pasti Dina akan meninggalkan dia dan waktu yang salah tiba.
Kabar buruk pun terjadi ketika Novan berkata kepada Fariz "Riz, kamu tau tidak bahwa kakak tingkat ada yang deketin Dina terus, jadi mau sampai kapan kamu untuk tidak menemui Dina?"
Dan dari situ Fariz merasa rasa cemburunya tiba dan berkata kepada Novan "Iya Van makasih ya udah memberitahu, baiklah kalo gitu saya tidak takut lagi dengan waktu yang salah akan tiba" Seketika hatinya tergerak untuk menemui Dina.
Keesokan harinya ia mencari Dina di kampus terkemuka di Bogor, tetapi malangnya ia tidak kunjung bertemu dengan Dina. Seketika Inisiatinya pun tiba dengan menghubungi Dito yang saat itu cuman ia yang tersambung dengan telponnya dan menjawab telpon Fariz sambil berkata "Ada apa Riz?, tumben nelpon".
"Oiya maaf ganggu To, mau nanya nih kamu liat Dina tidak To?" Jawab Fariz.
"Oalah kirain ada apaan, liat sih Riz kan ia lagi ada jam kuliah, ia kan sekelas sama Novan" Jawab Dito.
"Walah pantes mereka berdua susah ditemui dan dihubungi, makasih ya infonya to" Jawab Fariz dengan senyuman leganya.
Ketika Fariz sudah mengetahui keberadaan Dina, lalu bergegas ke kelasnya untuk menemuinya. Akhirnya waktu jam kuliah Dina telah selesai, Fariz pun menunggu ia keluar dari kelasnya. Ketika Dina keluar dari kelasnya ia pun dijemput oleh seseorang lelaki lain dan melangkah pulang bersama. Seketika Fariz pun langsung kabur dari tempat ia menunggu dengan rasa sakit yang luar biasa hebatnya dan mengurung dirinya di dalam kamar selama berhari-hari disaat waktu yang salah kembali tiba.
#4. Terobati Dengan Perjuangan
Novan dan Dito merasa kasihan melihat Fariz merasa murung terus di kamarnya berhari-hari. Dan dengan inisiatif mereka berdua mendombrak kamarnya dan terbuka. Seketika Dito membawakan makan berupa ayam bagian dada dan sambil berkata kepada Fariz "Ayok dong Riz semangat, mau sampai kapan kamu kayak gini terus nih aku bawain ayam bagian dada terenak di Bogor". Seketika Fariz mulai mengingat masa-masa indah bersama Dina dengan traktir ayam bagian dada dan Fariz pun malah nangis sekencang-kencangnya.
Disaat itu Novan menyalahkan Dito dengan berkata "Tuh kan to kamu ini malah memperburuk suasana, dia itu tidak suka dada ayam. Sukanya dada duo serigala" Sambil memberikan video goyangan dada duo serigala ke Fariz.
Dan Fariz pun melempar hpnya dan sambil berkata dengan keras "Kalian jangan ganggu saya ya, saya mau sendiri. Rasa sakit saya sudah tidak ada obatnya lagi"
Seketika hening dan mereka pun meninggalkan kamarnya Fariz dan Novan sambil berkata "Baik kami akan pergi Riz, Tapi perlu diingat rasa sakit itu ya obatnya dengan bahagia Riz, jadi bahagia seseorang itu tidak harus dengan memaksakan kita memilikinya seutuhnya, tapi membuat dia bahagia dengan orang lain dengan mengikhlaskannya juga perlu Riz. Lagian selama janur kuning belum melengkungkan bisa jadi itu jodohmu Riz, ya kalo dia bukan jodohmu ikhlaskan saja Riz, masih banyak wanita baik diluar sana yang menunggumu. Yang terpenting kamu jalanin saja hidup ini dengan fokus menggapai mimpimu dan Orang Tuamu disini, kan kasihan Orang Tuamu Riz sudah berkorban tenaga, pikiran, dan doa sampai kamu bisa kuliah di Bogor. Kamu disini cuman menyia-yiakanya dengan murung seperti ini karena wanita".
Perkataan Novan telah mempercikan api-api semangat kepada Fariz sambil berkata "Terimakasih ya Van atas motivasinya diriku jadi terobati dan semangat kembali dan Dito juga makasih ya udah berusaha semangati saya, ya kalo gak ada kalian berdua udah hampa hidup saya ini. Eh btw video yang duo serigala tadi mana dong saya belum lihat hahaha.
Seketika Fariz langsung semangat menjalani hidupnya untuk menggampai impian dan memulai kembali dalam aktivitas kuliahnya. Lalu, keinginan sebelumnya bertemu dengan Dina ia wujudkan kembali dengan memberanikan dirinya bertemu dengannya. Ketika ia berangkat kuliah dengan naek transportasi angkot, kemudian ia melihat pacarnya Dina bernama "Jeki" di jalan sedang berboncengan dengan wanita lain dan seketika membuat Fariz sangat geram dan ingin bertemu Dina untuk memberitahu kejelekannya pacarnya secepatnya. Lalu, Jeki sangking marahnya dia berbicara sendiri di angkot sambil berkata "Oh pantes aja namanya Jeki, jelek wataknya rasanya ingin saya jejek"
Seketika kenek di angkot itu merasa tersinggung dan sambil berkata "Maaf mas, kamu ngatain saya, inget mas di dunia ini tidak ada yang sempurna dan kesempurnaan hanya milik Tuhan"
"Tidak mas saya ngomong diri sendiri, makasih ya mas udah ingetin untuk tidak mengghibah orang lain" Jawab Fariz.
Sesaat Fariz sudah sampai kekampus ia bertemu dengan Dina di depan kelasnya dan berkata "Halo Din, eh kamu masuk ke kampus sini juga ya? Apa kabarnya Din udah lama ya tidak bertemu?"
"Eh Fariz, iya riz Alhamdulillah saya masuk kampus ini juga. Sehat kok Riz, maaf ya saya waktu itu belum sempat bertemu langsung dengan kamu untuk mengucapkan selamat tinggal soalnya buru-buru banget" Jawab Dina.
"Oalah iya Din tidak apa-apa, saya juga sudah baca surat dari kamu kok. Eh kata Novan kamu sudah punya pacar ya?" Fariz bertanya dengan sangat antusias.
"Iya Riz, eh kamu kenal sama Novan darimana ya?" Balasan dari Dina.
"Iya kenal Din, ia kan satu asrama sama saya Din. Eh kamu tau tidak sih kalo pacarmu itu jalan sama wanita lain?" Fariz memberitahu Dina.
"Hahahaha, mana mungkin Riz dia bermain sama wanita lain. Soalnya dia sangat setia benar sama saya" Jawab Dina dengan pedenya.
"Terserah Din, saya cuman mau yang terbaik untuk kamu saja dan supaya kamu dapat lelaki yang mendampingimu dengan baik wataknya dan jujur" Fariz meyakinkan Dina.
"Sudah cukup ya Riz kamu jangan ngurusin hal pribadi saya, mending urusin aja kuliahmu Riz" Jawab Dina dengan geramnya.
"Baik Din, saya cuman mengingatkan sama kamu ya dan kalo ada apa-apa terjadi sama kamu hubungin saya ya" Jawab Fariz sambil menunjukkan nomor teleponnya.
Sesaat hutang Fariz sudah lunas untuk bertemu kembali dengan Dina dan ia fokus dengan kuliahnya agar menyelesaikannya dengan hasil yang memuaskan. Kemudian, diujung waktu perkuliahannya akhirnya ia menyelesaikannya dengan predikat sangat memuaskan dan hal tersebut dari hari buruk masa lalunya terobati dengan perjuangannya. Disaat waktu wisudanya telah datang, ia ditemuin dengan Dina dengan membawa ayam dada kesukaannya dan mereka berbincang bersama sambil Fariz berkata "Makasih ya Din atas ayam dadanya jadi inget masa lalu ya, gimana Din pacarmu Jeki, kamu masih sama dia?"
"Iya Riz sama-sama, iya benar jadi inget masa lalu lalu ya hehe. Eh Riz benar perkataanmu waktu itu bahwa Jeki itu lelaki yang jelek wataknya, maaf ya kalo saya waktu itu mengabaikanmu" Jawab Dina.
"Iya Din tidak apa-apa kok, kamu tetap semangat ya masih banyak kok lelaki diluar sana yang baik dan menjaga dirimu dengan baik juga" Jawab Fariz dengan semangatnya.
Kemudian hari demi hari berlalu mereka kembali menikmati waktu bersama dan Fariz terobati dengan perjuangannya selama ini yang telah ia lalui.
#5. Skenario Terbaik Tuhan
Tepatnya di hari Senin yang cerah Fariz mengingat waktu indahnya saat SMA bersama dengan Dina dan ia kembali ingin mengungkapkan perasaan cintanya kepada Dina. Malang nasib Fariz, sesaat ia ingin bertemu dengan Dina dirumahnya untuk mengungkapkan perasaan. Dina pun pergi dan tak akan kembali lagi ke Bogor dan sesaat Dina memberi kabar lewat sms yang ia terima dengan pesan "Riz maaf ya saya tidak memberi kabar kembali soal kepergian saya yang mendadak ini, saya ingin meninggalkan Bogor dikarenakan Orang Tua saya mengalami Broken Home dan saya bersama dengan Ibu saya tinggal kembali di Lampung untuk menjalani hidup. Semua lelaki itu ternyata sama ya Riz punya watak yang buruk terhadap wanita dan maaf Riz saya sekarang tidak mau diganggu lagi serta biarkan saya sendiri ya dan maaf kalo selama ini saya punya salah sama kamu Riz dan kamu tetap semangat ya menjalani hidup Riz"
Seketika Fariz meneteskan air matanya dan berkata terhadap dirinya sendiri dan berdoa "Ya Tuhan memang ini adalah skenario terbaik yang telah engkau tetapkan kepada hamba dan hamba selalu berprasangka yang baik terhadap Engkau. Tapi kumohon Tuhan, tolong beri kebahagiaan untuk Dina ya Tuhan.
Dan Fariz menerima scenario terbaik yang telah ditetapkan Tuhan dan tetap semangat menjalani hidup waktu demi waktu ia lewati dengan semangat. Sangking semangatnya ia sampai diterima kerja di perusahaan terkemuka di Bogor. Seketika nada hpnya berbunyi dan melihat sms dari Dina, hatinya dan wajahnya pun tersenyum tetapi menangis sambil melihat isi pesannya "Assalamualaikum Riz, gimana kabarmu Riz sehat disana?. Begini Riz saya ingin mengundangmu untuk hadir ke acara Resepsi Pernikahan saya dengan lelaki yang menurut saya wataknya sudah baik, kamu bener di dunia ini masih ada kok lelaki yang baik. Tolong kalo kamu punya waktu untuk hadir ya ke acara pernikahan saya di hari Senin nanti.
Lalu, Fariz pun merasa Tuhan telah mengabulkan permintaannya walaupun Dina tidak hidup bahagia bersamanya sevisi sesurga. Tapi Fariz tetap menerima scenario terbaik yang telah ditetapkan oleh Tuhan dan ia pun langsung pulang ke Lampung serta menghadiri pernikahannya. Setelah acara pernikahan Dina selesai, ia ingin mengungkapkan perasaan cintanya kepada Dina dan berkata "Din makasih ya selama ini atas kebersamaannya dan waktunya, karenamu saya berhasil menggapai impian saya. Saya cuman ingin mengungkapkan sedikit perasaan saya bahwa saya cinta kepada kamu Din tetapi saya tetap bahagia kok walaupun kita tidak bisa bersama dan kamu akhirnya bahagia dengan lelaki yang terbaik. Maaf ya kalo selama ini saya buat salah sama kamu dan ini adalah hadiah terakhir saya ayam dada sebagai saksi kebersamaan kita, tolong diterima ya".
"Iya Riz, sebenarnya saya juga cinta sama kamu kok Riz tetapi saya cuman tidak ingin kita hidup menderita karena saya trauma dengan lelaki yang saya cintai selama ini meninggalkan saya dan juga saya ingin kita tetap jalin komunikasi ya Riz" Jawaban menyentuh Dina.
Akhir cerita, ya begitulah cinta kita tidak tahu akan bermuara dimana tetapi yakinlah ketetapan yang telah Tuhan berikan kepada kita dan tetap yakin scenario terbaik yang telah Tuhan berikan kepada kita baik kabar baik maupun buruk. Intinya tetap berdamailah sekalipun itu waktu yang salah.

0 Comments